98 Views

Saudaraku,

Janganlah sekalipun mencampurkan perkara yang betul dengan yang batil, sehingga sesuatu yang betul dianggap batil dan sesuatu yang batil dianggap betul, dengan membohongi kebenaran dan membenarkan kebohongan,

وأخرج الترمذي وصححه، والنسائي، والحاكم وصححه، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «سيكون بعدي أمراء، فمن دخل عليهم فصدقهم بكذبهم، وأعانهم على ظلمهم، فليس مني، ولست منه، وليس بوارد علي الحوض، ومن لم يدخل عليهم، ولم يعنهم على ظلمهم، ولم يصدقهم بكذبهم، فهو مني، وأنا منه، وهو وارد علي الحوض

“Akan ada sepeninggalanku para penguasa, maka barangsiapa yang mendatanginya dan membenarkan kebohongannya, menolong atas kedzalimannya, bukan golonganku, serta aku bukan golongan dia, dan tidak akan memasuki haudh, dan barangsiapa yang tidak mendatanginya, tidak menolongnya atas kedzalimannya, tidak membenarkan kebohongannya, termasuk golongku dan akan memasuki haudh”.

(HR. Tirmidzi, Nasa’i dan Al-Hakim)

Saudaraku,
Sejarah telah mencatat…
“Kalian sudah kalah”. Itu yang dulu dikatakan Fir’aun ketika Nabi Musa AS sampai di tepi laut merah. Tertutup dan terdesak tak ada jalan keluar lagi…

“Kalian sudah kalah”. Itu yang dikatakan raja Namrudz ketika Nabi Ibrahim AS dibakar di dalam lapangan api yang luas…

“Kalian sudah kalah”. Itu yang dikatakan pasukan Ahzab ketika mereka mengepung Nabi Muhammad SAW di dalam kota madinah…

“Menyerahlah”, itu yang dikatakan oleh pasukan Mongol kepada Saifudin Quthuz ketika mereka akan masuk ke Mesir, setelah meluluhlantakkan ibukota Muslim di Irak…

“Menyerahlah”, itu yang dikatakan oleh pasukan NICA ketika mereka mengepung Kota Surabaya dengan pasukan dan peralatan perang yang sangat besar…

Tapi sejarah mencatat… siapa yang tenggelam, siapa yang mati mengenaskan, siapa yang hancur setelahnya…

Saudaraku,
Kita mungkin akan kalah, tapi kita juga bisa menang. Tapi kita tidak akan menyerah. Karena kita berada di posisi yang betul, bukan di posisi yang batil, bersama di jalan yang ditempuh Ulama. Mereka pewaris Nabi. Mereka mewarisi keberkahannya. Dan mereka juga mewarisi pahit getirnya perjuangan para Nabi. Sampai kapanpun dan di mana pun perkara yang betul tidak akan pernah bisa disatukan dengan perkara yang batil…

Saudaraku,
Orang bilang jangan terlalu berharap, nanti bisa terlalu kecewa. Tapi Allah Azza wa Jalla menyuruh kita terus berharap hanya pada-Nya. Maka tetaplah pada posisi betul. Kita tidak akan pernah goyah dan berpindah pada posisi batil. Sampai Allah Azza wa Jalla menetapkan janji-Nya…

Saudaraku,
Sayyidina ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz Rahimahullah bertanya kepada orang-orang yang duduk di majelisnya:

‏أخبروني بأحمق الناس!

“Kabarkan kepadaku siapakah orang yang paling bodoh !”

Mereka menjawab :

رجل باع آخرته بدنياه.

“Orang yang menjual akhiratnya demi mendapatkan dunianya.”

Maka beliau berkata :

ألا أنبئكم بأحمق منه؟!

“Maukah kukabarkan kepada kalian siapakah orang yang lebih bodoh darinya ?!”

Mereka menjawab,
“Tentu saja.”

Beliau menjelaskan :

رجل باع آخرته بدنيا غيره.

“Orang yang mengorbankan akhiratnya demi kepentingan dunia orang lain.”

(Jami’ul-Bayanil ’Ilmi wa Fadlihi, jilid 2 hlm. 82)

Saudaraku,
Tanpa disadari sering kita jumpai orang yang menjual akhiratnya demi mendapatkan dunianya. Ia tidak memahami bahwa urusan akhirat adalah kekal abadi, sementara urusan dunia adalah semu dan melenakannya. Ia tergoda oleh kekuasaan dan kekayaan, bahkan dengan menghalalkan segala cara ia ingin melanggengkan kekuasaan dan kekayaannya. Meskipun berbagai kalangan umat telah mengingatkannya bahwa justru di balik kekuasaan dan kekayaannya itulah kelak di akhirat ia akan dimintai pertanggungjawaban lebih berat. Itulah perilaku bodoh… Lebih bodoh lagi orang yang mengorbankan akhiratnya demi kepentingan dunia orang lain, ia membela habis-habisan mendukung perilaku bodoh orang lain… _Na’udzubillahi min dzalik_

Saudaraku,
Itulah pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar,

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ [رواه مسلم]

“Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.”

(Riwayat Muslim)

Saudaraku,
Menentang perilaku kebatilan dan menolak kemungkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam ajaran Islam atas setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya. Karena bagaimanapun ridha terhadap kemaksiatan termasuk di antara dosa-dosa besar. Sedangkan sabar menanggung kesulitan dan amar ma’ruf nahi mungkar merupakan buah dari iman…

Saudaraku,
Mengingkari kebatilan dan kemungkaran dengan hati diwajibkan kepada setiap muslim, sedangkan pengingkaran dengan tangan (kekuasaan) dan lisan berdasarkan kemampuannya itu jauh lebih baik…

Saudaraku,
Seseorang yang tidak mengingkari kebatilan dan kemungkaran dengan hatinya maka ia adalah orang yang mati dalam keadaan hidup, sebagaimana perkataan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu tatkala ditanya, “Apakah kematian orang yang hidup?” Beliau menjawab:

من لم يعرف المعروف بقلبه وينكر المنكر بقلبه

“Orang yang tidak mengenal kebaikan dengan hatinya dan tidak mengingkari kemungkaran dengan hatinya.”

(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf beliau no. 37577)

Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.”

(QS. Al-Maidah: 165)

Saudaraku,
Amar ma’ruf nahi mungkar adalah untuk menyadarkan orang-orang yang lalai dan cambuk bagi orang yang terlena,

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa”

(QS. Al-A’raaf: 164)

Saudaraku,
Marilah kita senantiasa memanjatkan do’a kehadirat Allah Azza wa Jalla,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak sesat atau disesatkan (setan atau orang yang berwatak setan), agar tidak berbuat kesalahan atau disalahi, agar tidak menganiaya atau dianiaya (orang), dan agar tidak berbuat bodoh atau dibodohi.”

(HR. Abu Daud No. 5094, HR. Tirmidzi No. 3427, HR. An Nasai No. 5501, dan HR. Ibnu Majah No. 3884. Lihat Shahih Tirmidzi 3/152 dan Shahih Ibnu Majah 2/336)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa ber _amar ma’ruf nahi munkar_, mengajak saudara kita agar berperilaku betul dan mencegah saudara kita dari berperilaku batil untuk meraih ridha-Nya…
Aamiin Ya Rabb.

Wallahua’lam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here