56 Views

Musibah tak akan terlepas dari siklus kehidupan di muka bumi ini. Dalam perspektif Islam musibah dengan konteks bencana alam dapat terjadi karena sunnatulloh proses alamiah seperti gempa, tsunami, puting beliung dan sebagainya.

Namun ada juga bencana karena faktor sosiologis sehingga menyebabkan subjektive danger (bahaya akibat ulah manusia) seperti merusak alam vandalisme, eksploitasi, membuang sampah di sungai atau DAS, alihfungsi lahan tanpa memaksimalkan rancangan drainasenya sehingga menghambat proses evolusi alam untuk menciptakan keseimbangan baru, maka terjadilah bencana. (Qs. Ali Imran: 165, An-Nisa: 62, Rum: 36, Asy-Syura: 30).

Bahkan beberapa sumber tulisan menyebutkan ada bencana akibat sosial politik kemanusiaan karena sepenuhnya ulah manusia seperti korupsi, tamak, sewenang-wenang dalam kekuasaan, hingga dosa pemimpin yang lalai terhadap amanahnya.

Tetapi kemudian akan menjadi sia-sia jika kita terjebak dalam suasana debatebel tentang bagaimana bencana terjadi, meskipun hal demikian juga wajib kita eksplorasi sehingga bisa melahirkan problem solving untuk meminimalisir dampak negatif dari bencana yang menghampiri.

Awal tahun 2021, sebagian masyarakat di wilayah Prov. Jawa Barat yakni Karawang, Subang, Indramayu, Bekasi, Bogor kembali menerima tamu tahunan, yakni bencana banjir dengan berbagai analisis musababnya.

Kabupaten Karawang misalnya, daerah ini di lalui sungai Citarum yang membentang sepanjang 297 km, bersumber dari mata air Gunung Wayang (sebelah selatan Kota Bandung), mengalir ke Utara melalui Cekungan Bandung dan bermuara di Laut Jawa. (citarum org : Fakta Sejarah), yang seringkali meluap saat curah hujan dengan intensitas tinggi. Dan banyak lagi sumber-sumber luapan air yang mengakibatkan pemukiman warga terendam banjir dari 50cm hingga 300cm.

Hingga Senin (22/2) BPBD Karawang mencatat sebanyak 14.754 KK atau 52.527 jiwa dari 33 Desa di 18 Kecamatan yang ada di Karawang terdampak bencana banjir. Sementara warga yang mengungsi sebanyak 3.393 KK atau 19.092 jiwa.

Tingkat perilaku manusia menghadapi bencana ditentukan oleh kesadaran atau tingkat literasi bencana, bukan hanya saat terjadi, tapi juga berkenaan dengan mitigasi serta rekonstruksi pasca bencana.

Di Karawang, yang menjadi menarik untuk di bahas adalah semangat para pemudanya dalam membantu para korban banjir baik melalui evakuasi lapangan maupun penanganan korban di tempat pengungsian.

Api semangat ini ditunjang dengan bekal komunikasi dan koordinasi akibat interaksi sosial Pergaulan Positif serta intensitas pelatihan kemampuan dalam penanganan bencana diantara para relawan yang tergabung dalam Satuan Tugas (satgas) Taruna Siaga Bencana (TAGANA), Korp Suka Relawan (KSR) PMI, BPBD. Maupun kelompok atau organisasi kepemudaan yang tergabung dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) serta komunitas – komunitas pemuda lainnya yang bertumbuh kembang secara masif.

Pemerintah Daerah Kab. Karawang khususnya, harus banyak berterimakasih kepada pemuda/i tangguh yang menjadi relawan bencana selama bencana banjir yang diprediksi terjadi kurang lebih satu pekan ini.

Pemuda/i ini dengan sigap melintingkan lengan baju dan memakai atribut kebanggaannya, menyisir setiap pemukiman warga dengan perahu karet, dibayang-bayangi dengan kecemasan semakin tingginya arus dan debit air, memasak ditempat pengungsian, melakukan kordinasi dari satu tempat ke tempat lain, mengatur dan melayani para pengungsi yang membutuhkan asupan makanan dan dorongan moril, psikologi dengan pola pelayanan psikososial.

Mereka mengejawantahkan kepekaan sosial dalam wujud perilaku baik secara kolektif dengan membantu sesama atas dasar kemanusiaan. Pantas disebut sebagai bentuk kontribusi bagi bangsa bukan hanya karena mereka tidak dibayar, tetapi juga mereka mengorbankan fisiknya, nyawanya dan waktunya bersama keluarga.

Hal demikian tentu menjadi bagian dari variabel subtansi terhadap Indeks Pembangunan Pemuda, tinggal bagaimana pemerintah daerah melihat, menyikapi, serta menindaklanjuti semangat para pemuda untuk bersama-bersama menjadikan masyarakat Karawang yang aman dan sejahtera.

Penulis berpendapat, bahwa fenomena responsif sosial kebencanaan seperti ini harus di sambut baik oleh pemerintah dengan menyediakan fasilitas pemberdayaan para pemuda di Karawang untuk senantiasa meningkatkan kemampuannya di bidang mitigasi, tanggap darurat serta pemerintah diharapkan bisa dengan sigap bersinergi dengan unsur pemuda untuk melakukan tahapan pasca bencana berkaitan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pemerintah juga harus segera menyusun renstra sebagai solusi atas penanggulangan bencana, seperti memaksimalkan pengawasan alih fungsi lahan yang terjadi dibanyak area hijau di Karawang, optimalisasi drainase dan ketegasan sanksi terhadap pengelolaan limbah baik industri maupun rumah tangga yang rendah akan tanggungjawab moral.

Suatu kesadaran sosial harus dilestarikan, apa yang sudah diperbuat oleh para pemuda di Karawang selama tanggap darurat bencana banjir ini harus diteruskan oleh setiap generasinya. Membantu sesama tanpa melihat latar belang suku agama ras golongan, semua bergerak atas dasar kemanusiaan.

Oleh : Ichsan Maulana
Kader Muda Muhammadiyah
Wakil Ketua 1 DPD KNPI Karawang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here