132 Views

Kendati saya sering dibully menyatakan bahwa covid-19 itu seperti flue biasa, yang memang bombastis efek Media sehingga memunculkan kekawatiran yang sangat besar ditengah-tenggah masyarakat.

Saya sebagai salah satu Tim Ahli Percepatan Penanganan Covid-19 dan dampak Psikologis paca Covid-19 di Lombok Barat telah bertemu dengan berbagi orang baik masyarakat pada umumnya, PDP, ODP dan bahwakan yang positif dan sudah sembuh dari covid-19.

Ada beberapa catatan menarik dari apa yang saya peroleh ketika berinteraksi dengan mereka. Nanti mungkin catatan saya ini bisa dikoreksi oleh para dokter dan ahli lainnya, namun apa yang saya sampaikan ini empiris dan ilmiah.

1. Masyarakat sendiri bingung, sisi lain pasar selalu dibuat di NTB ini sejak awal sampai kini, tetapi anehnya tidak ada satupun cluster pasar. Yang lebih banyak justru cluster Gowa yang disebut-sebut memberikan konstribusi besar pada naiknya covid-19.

2. Kemudian saya temui beberapa cluster Gowa yang asalnya dinyatakan positif dan di karantina lalu pulang untuk menjaga etika saya cari no HP dan tidak tatap muka langsung tetapi melalui media VC WA. Para cluster ini selama karantina, diminta olah raga, makanan cukup dan diberikan vitamin. Setelah itu walau ada beberapa yang memang harus dirawat tidak sampai ada yang masuk ICU atau perawatan sampai di infus segala bahkan tidak ada yang namanya diberikan nafas tambahan dari alat ventilator, wa syukurilah beliau-beliau sehat bugar kembali.

3. Masih ingat dengan cluster 1 dan 2? Yang beliau adalah tokoh agama dan punya lembaga pesantren. Isu pertama kali yang muncul dan informasi yang saya terima pesantren ditutup karena ada yang terpapar bahkan 1 desa dan kecamatan terpaksa di tutup di Lombok Timur. Tetapi kemudian beliau di nyatakan sehat dan santri-santri tidak ada yang terpapar bahkan anak-anaknya juga tidak ada, anehnya sang tukang urut Alhamdulillah negatif.

4. Secara riel saya tau ada beberapa pejabat Lombok Barat yang ikut Rapit Tes, pada rapit tes pertama dengan produk dari negara tertentu dinyarakan reaktif covid-19, tetapi kemudian dilakukan tes ulang dengan produk rapit tes lainnya dan swap toh hasilnya negatif dan beliau-beliau sehat bugar.

5. Pada beberapa kesempatan pejabat negara ini yaitu Presiden, keluar dalam acara bersama banyak orang juga pakai masker tidak seperti layaknya pakai masker, diletakkan di dagunya termasuk Gubernur NTB, pakai masker tetapi juga tidak dipakai sebagainya layaknya pakai masker! Artinya apa? Beliau-beliau ini tentu tau resiko covid-19, kalau memang berbahaya. Kenapa demikian adanya pakai masker?

6. Saya pun tanya kepada beberapa keluarga yang meninggal karena covid-19. Dari 3 yang saya tanyakan, 1 usia dibawah 40 tahun yang meninggal. 2 diatas 50 tahun. Keluarga mengatakan bahwa yang meninggal itu memang positif covid-19 tetapi punya penyakit lainnya seperti Diabetes Melitus dan 2 nya mengemukakan bahwa punya riwayat penyakit paru-paru (tidak menyebut spesifik penyakit paru-paru apa)

7. Sekarang ada salah satu mantan mahasiswa saya yang ayahnya dikatakan positit covid-19. Saat kontrol ke dokter pada mulanya adalah karena memang kontrol rutin karena punya penyakit paru-paru, usianya sekitar 60an ke atas. Setelah sampai di klinik langsung di nyatakan positif covid dan harus dirawat di RS, anehnya yang diminta merawat adalah anak nya sendiri, sudah dilalukan rapit tes, tetapi yang merawat tidak positif covid-19? Aneh kan padahal merawat selama bebepa hari. Dan saat di rumah sakit, hanya diberikan antibiotik, vitamin dan perawatan penyakit parunya. Alhamdulillah sampai sekarang beliau sehat. Semoga tetap sehat.

6. Saya prihatin dengan para tenaga kesehatan yang terpapar covid-19, mereka saat ini sangat dibutuhkan oleh kita semua dalam menangani Covid-19 ini. Namun saya juya merasa aneh, beberapa yang terpapar justru bukan dari perawat dan dokter yang langsung merawat pasien covid-19 bahkan ada dokter spesialis kandungan dan juga dokter spesialis anastesi?! Bisa jadi memang penularannya dari pasien tanpa gejala. Tetapi pasien tanpa gejala itu kemana? Apa yang bersangkutan masuk ICU atau sehat? Ini yang perlu di identifikasi secara khusus.

7. Tentang banyaknya kasus positif Covid-19 di NTB yang berdampak pada anak, saya memang bukan ahli penyakit anak tetapi membaca beberapa artikel terbaru bahwa rapit tes ini erat kaitannya dengan imun seseorang apalagi anak. Penyakit anak itu lebih sering adalah ISPA seperti batuk, pilek dan demam. Nah ketika di rapit tes pada saat mereka sakit, apalagi menggunakan rapit tes produk negara tertentu bisa jadi langsung positit. Lha wong pejabat yang sehat bugar di tes dengan rapit tes produk negara itu aja bisa positif apalagi anak-anak? Apalagi jika anak-anak itu saat diperiksa dalam kondisi kurang fit karena batuk, pilek dan demam.

8. Maka seperti kata Dr. Jack direktur RSU Kota Mataram dalam cuplikan wawancara dengan wartawan Lombok Post yang akan dimuat tanggal 2 Juni 2020 mengemukakan akan melakukan swap ulang pada anak yang dinyatakan positif covid-19, saya lebih percaya beliau selain direktur juga dokter yang tentu hal impiris dan pengalaman sebagai direktur RS rujukan covid-19 sudah tau bagaimana sebenarnya covid-19 ini.

Dengan beberapa fakta diatas, maka saya mengemukakan;

1. Covid-19 ini memang ada, ya harus kita akui ini memang ada, tetapi lebih masih pemberitaan negatif yang menakutkan dari pada yang menggembirakan padahal sugesti terbesar pada semua penyakit adalah motivasi dan keberanian melawan penyakit itu sendiri. Saya pernah punya pasien stadium IV kangker, dokter sudah mengatakan bahwa tak akan bertahan beberapa bulan lagi. Lalu kita ngobrol-ngobrol, beliau punya motivasi yang luar biasa, beliau semangat juangnya hidup nya mengalahkan obat dan kemotherapy yang harus ia jalani. Ia tetap bekerja seolah-olah vonis dokter itu tak ada artinya dan justru ia yang memberikan semangat juang kepada keluarganya. Akhirnya semua keluarga bangkit dan anak-anak serta istrinya juga bersemangat, ibadah rajin, kerja luar biasa, bahagia diciptakan. Ajal memang tak bisa dihindari, vonis dokter hanya beberapa bulan ternyata beliau bisa bertahan 10 tahun hingga 2 anaknya wisuda S1 dan bekerja.

2. Media tak pernah mengekposes dengan transparan bahkan tenaga kesehatan yang merawat covid-19 saya tanya tidak ada yang secara transparan mengatakan bagaimana sebenarnya saat dirawat apakah benar yang di ICU dan palai ventilator itu murni covid atau punya penyakit pendamping lainnya? Saya sendiri tim ahli tidak punya akses untuk melihat ke dalam RS dengan alasan protokol covid-19 sehingga saya tidak bisa menerangkan kebenaran tentang biaya sampai ratusan juta untuk 1 pasien covid 19?

3. Covid-19 ini memang ada, tetapi karena informasi dan kebijakan pemerintah yang berulang kali berubah-ubah menyebabkan saya bertanya-tanya kenapa? Ada apa? Satu kebijakan belum tuntas, dibuat kebijakan baru? Belum lagi diberlakukan sudah ada wacana lainnya? Tentu pemerintah ini bukan “pemerintah yang isinya adalah orang-orang yang tak berilmu” mereka tentu punya SDM lengkap yang mengkaji setiap kebijakan yang ada. Hal ini tentu menyebabkan semakin rendahnya kepercayaan masyarakat bahwa covid-19 itu menakutkan dan berbahaya.

4. Dana pemerintah ini sudah hampir habis untuk melawan covid-19, kalau hanya dalam tataran ketidakjelasan siapa yang kita lawan saat ini, covid-19 ini bagaimana dan apa sesungguhnya. Maka negara kita tidak akan sampai di penghujung tahun 2020 sudah kolep pendanaannya bahkan pemda sudah kehabisan dana untuk menangani covid-19 ini.

Maka yang ingin saya sampaikan di akhir tulisan ini adalah;

1. Kita harus percaya kalau ada covid-19, karena memang ada uji klinis dan ada bukti korban covid-19 bahkan ada yang meninggal. Tetapi jangan sampai semua energi masyakat hanyut dalam ketakutan dengan covid yang saat ini sudah menjalan ketakutan dan paranoid pada anak-anak. Hal ini justru mengkhawatirkan karena belum ada obat dan vaksinya maka cara kita melawan Covid-19 adalah dengan semangat, dengan bekerja, dengan tetap beraktifitas dan dengan bahagia karena hanya itu yang bisa menumbuhkan kekebalan fisik dan psikologis untuk melawan covid-19.

2. Bukan berarti dengan melawan Covid-19 kita melupakan protokol pencegahan Covid-19? Tetap harus dijaga kebersihan tangan dan sebagainya.

3. Saya khawatir kenapa anak-anak banyak yang positif Covid-19? Bukan hanya tumbuh mereka saat ini yang rentan karena kurang gerak, tetapi psikologis mereka terganggu karena pola hidupnya berubah dari bahagia disekolah dan bermain dengan temannya tiba-tiba 3 bulan harus berdiam diri dirumah dan tiap hari mendapatkan informasi negatif corona dan ditambah tekanan pembelajaran online yang orangtua tak semua sanggup menjadi guru bagi anak-anaknya.

4. Saya khawatir semakin naiknya grafik covid-19 ini bukan murni karena terpapar covid, bisa jadi masyarakat yang telah lelah fisik, psikologis, religius dan ekonomi sakit lantas berobat dan di rapit tes dengan produk negara tertentu, karena imunitasnya menurun maka berdampak pada hasil rapit tes menjadi positif. Maka yang dibutuhkan masyarakat sekarang adalah ibadah, akses ekonomi dan hidup normal sebagaimana biasanya tetapi tetap menjalankan protokol. Bagaimana tidak stress jika 3 bulan ini masyarakat harus dirumahkan, tidak ada penghasilan, tidak ada relaksasi rohani dengan ibadah di tempat-tempat ibadah maka serangannya kemudian adalah daya tahan tubuh yang menurun. Perbolehkan masyarakat beraktifitas, bekerja dan beribadah tetapi tetap mematuhi protokol covid-19 sampai benar-benar covid-19 ada obat atau vaksinnya.

5. Kondisi yang hampir sama dialami oleh anak-anak, lonjakan terpapar covid-19 pada usia anak, tidak mutlak variabel covid-19, saya punya asumsi bahwa mereka juga stress, mereka capek kemudian daya tahan tubuh menurun, musim batuk pilek menyerang dan mereka sakit batuk pilek dan demam setelah itu di periksakan ke dokter dan dianjurkan rapit tes akhirnya dinyatakan positif sebelum swap dilakukan. Hal ini tak lain karena mereka kehilangan kebahagiaan, kehilangan masa gembira bermain bersama teman-temannya dan justru terbabani di rumah mengerjakan tugas sambil mendengarkan, melihat berita covid-19 yang menyeramkan ditambah beberapa kasus KDRT meningkat. Maka tak ada jalan lain selain memberikan mereka kehidupan kembali dengan bersekolah, dengan bermain tetapi tetap dalam pengawasan dan protokol covid-19.

Saya yakin, bahwa kita semua bisa mengatasi covid-19 ini tanpa harus sterss karena banyak faktor yang tak jelas tentang covid-19 ini.

Bekerjalah, beribadahlah, beraktifitas wahai bapak dan ibu semuanya, agar engkau plong jiwa raga dan ekonomi terpenuhi karena itu penangkal utama covid-19 sebelum ada vaksin dan obatnya.

Wahai pemangku kebijakan pendidikan, buat aturan, regulasi atau protokol tentang masuk sekolah kembali karena itu adalah cara ampuh mengurangi stress dan dampak Psikologis anak-anak. Tengoklah, di ujung desa sana anak-anak yang bahagia tak ada kabar mereka postif covid-19?! Karena mereka bahagia.

Bagi yang dikota dan rumah-rumah ukuran seadanya, anak harus dirumah adalah ibarat penjara bagi mereka. Maka saya harapkan ada kajian khusus bagaimana anak-anak masih bisa berinteraksi dengan temannya disekolah dengan protokol khusus agar kejadian positif covid-19 ke anak-anak tak semakin meningkat.

Demikian,
Pesantren Lenterahati Islamic Boarding School, 01 Juni 2020. Jam 22.30 WITA.

Dr. MA. Muazar Habibi, S.Psi.,M.Psych.,M.Pd
Koordinator Tim Ahli Percepatan Penanganan dan Dampak Covid-19 Kabupaten Lombok Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here